Waspada terhadap Riya’

Kau usap wajahmu dengan kedua tanganmu seraya berkata “amin..”. Kau lihat semping kiri-kananmu sudah tidak ada orang lagi. Ada yang beranjak keluar masjid, ada juga yang mulai membuka Al Quran untuk bertilawah.

Hari sudah mulai senja. Kau masih duduk di tempat kau mendirikan shalat ashar tadi. Pukul 4 sore nanti kau akan mengikuti kajian tahsin di ruang sekretariatan DKM SU IT Telkom. Kau melihat ke luar masjid bagian timur. Sebagian mahasiswa keluar-masuk tempat penitipan sepatu. Tiba-tiba terdengar suara ka Arki, kaka mentormu, mengucapkan salam kepadamu. Kau menjawab salamnya sambil berjabat tangan lalu bersalam semut. Kalian pun saling menebar senyum.

“Kumaha damang? Sehat?”, Tanya ka Arki. “

“Alhamdulillah”.

“Sedang sibuk apa nih, R?”

“mm..kuliah! he..he..”

“kuliah aja, ya? Nasyid? Masih?”

“Udah engga, Ka”. Kau menjawab dengan suara agak pelan.

Lalu dimulailah pembicaraan antara kau dengan kaka mentormu itu. Kau menjelaskan kepadanya bahwa kau tidak lagi bernasyid karena kau takut akan riya’.

Sebelum kau memutuskan untuk tidak bernasyid, beberapa hari sebelumnya kau berbincang dengan temanmu yang dulu sempat menjadi anggota tim nasyidmu. Dia bertanya padamu tentang masih atau tidaknya kau bernasyid bersama teman-teman satu timmu. Kau pun menjawab, “ ya. Masih”.

Lalu tiba-tiba temanmu itu berkata, “ Menjadi seorang munsyid bagi saya sangat berat. Kita berada di antara riya dan ikhlas”.

Seketika itu Kau termenung. Kau pun menyadari bahwa tim nasyid yang selama ini kau bergabung dengan mereka terlalu mengedepankan kualitas performansi ketika pentas di atas panggung. Kau pun sering tidak merasakan sedang berdakwah ketika di atas panggung. Sejak saat itu kau ingin berhenti bernasyid.

Setelah mendengar penjelasanmu itu ka Arki pun mulai berbagi pemikiran denganmu. Dia mengiyakan alasan yang kau utarakan tadi. Dia menjelaskan bahwa memang benar bahwa kita harus waspada terhadap sifat riya’. Tapi jangan sampai karena takut riya, lantas kau mengabaikan ladang amal yang mungkin pahalanya begitu besar bagi Allah. Contohnya ketika kita melihat sampah di depan kita ketika kita sedang berjalan lalu ada keinginan dalam dirimu untuk memungutnya lalu membuangnya ke tempat sampah. Namun ketika kau merasa takut akan sifat riya’ lantas kau batalkan semuanya. Kalau itu sampai terjadi, hal itu sungguh tidak dibenarkan. Yang harus kita lakukan adalah meluruskan niat kita hanya karena Allah. Aa gym pernah memberi solusi, jika kita khawatir dalam diri kita muncul sifat riya’ ketika akan melakukan suatu kebaikan, ikhlaskan saja karena itu wajar bagi sebagian besar orang. Namun kita harus mengimbangi dengan niat yang benar-benar lurus sehingga siapa tau kita mendapat point -1 karena riya’ , namun kita pun mendapat point 10 karena niat lurus kita. Jadi kita masih punya point 9 bukan?

About Yusuf1710

|| Nama Lengkap : Robby Yusuf Pratama || Nama Panggilan : Yusuf || e-Mail Address : yusuf1710@yahoo.com & robby.yusuf@gmail.com || YM! ID : yusuf1710 || Address : Bandung, Jawa Barat 40125 || Mobile Phone : 087822112399 || Gender : Male || Date of Birth : 17 Oktober || Hometown : Bandung || Relationship Status : Single || Looking For : Friends, Activity Partners, Serious Relationship || Drinking : No || Smoking : No || Religion : Muslim

Posted on 16/01/2009, in Aku??, Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: